Musim Hujan Dimanfaatkan APRIL Indonesia Untuk Pencegahan Kebakaran

Source: news.detik.com
APRIL Indonesia terus bersiaga dalam mencegah kebakaran lahan dan hutan. Saat musim hujan mulai datang, tingkat kewaspadaan tetap tidak diturunkan. Bahkan, momen ini dimanfaatkan untuk melakukan beragam persiapan pencegahan kebakaran.

APRIL Indonesia merupakan produsen pulp and paper terkemuka. Bersama dengan mitra pemasok jangka panjang, mereka mengelola hutan tanaman industri seluas 927.390 hektare dengan konsep terbarukan. Di sana, mereka menanam pohon akasia yang digunakan sebagai bahan baku.

Sebagai perusahaan yang memanfaatkan sumber daya alam untuk menjalankan bisnis, APRIL Asia sangat paham tentang potensi alam Indonesia. Negeri kita dikaruniai alam yang subur dengan iklim tropis yang bersahabat. Hal itu sejatinya merupakan keuntungan tersendiri jika mampu merawat dan memanfaatkannya.

Keberadaan hutan merupakan salah satunya. Menurut Earthnworld, Indonesia tercatat sebagai negara dengan luas hutan terbesar kesembilan di dunia. Disebutkan bahwa sekitar 46 persen lahan di negeri kita merupakan kawasan hutan.

Akan tetapi, keberadaan hutan di Indonesia terus terkikis. Banyak sekali penyebabnya, namun kebakaran merupakan salah satu ancaman terbesar. APRIL Group tahu persis tentang hal ini sehingga melakukan beragam upaya untuk mencegah bencana tersebut terjadi.

Banyak sekali kegiatan yang dilakukan oleh APRIL untuk memastikan bencana kebakaran lahan dan hutan terjadi. Mereka melakukan patroli memantau hutan dan lahan, sosialisasi bahaya api kepada masyarakat, hingga pemadaman saat kebakaran terjadi.

Musim kemarau merupakan masa-masa tersibuk bagi APRIL Indonesia dalam pengendalian kebakaran hutan. Cuaca yang panas memang cenderung membuat potensi kehadiran api lebih besar.

Namun, kini musim hujan telah tiba. Kendati demikian, bukan berarti APRIL bisa bersantai-santai. Mereka tetap saja waspada mengingat ancaman api tetap tidak bisa hilang.

Sikap seperti ini sesungguhnya yang diharapkan oleh pemerintah Indonesia. Presiden Joko Widodo baru saja mengingatkan agar kewaspadaan bencana kebakaran hutan tetap tidak diturunkan meski musim hujan sudah datang.

"Sekali lagi saya titip pesan agar kita tidak lengah untuk mencegah dan mengantisipasi terjadinya kebakaran hutan dan lahan khususnya di lahan gambut seperti pada tahun 2015," tegas Joko saat menggelar rapat terbatas di Istana Negara, Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (12/9), seperti dilaporkan oleh Kumparan.

Langkah APRIL sejalan dengan harapan pemerintah. Kewaspadaan tinggi tetap dijaga. Patroli rutin maupun pemantauan titik api terus dilakukan agar tidak ada kebakaran.

Namun, momen musim penghujan juga membuka kesempatan bagi APRIL Indonesia untuk bersiap diri. Ancaman api yang berkurang memberi ruang bagi mereka untuk menata diri dalam menghadapi periode berbahaya tahun depan.

Terdapat banyak langkah yang dilakukan oleh APRIL Indonesia. Pada masa ini biasanya mereka memanfaatkannya untuk meningkatkan kemampuan tim kebakaran APRIL Group. Salah satu cara yang sering dilakukan ialah mendatangkan pelatih dari luar.
   
Pada Juni 2017 misalnya. Tim kebakaran APRIL menjalin kerja sama berupa pelatihan dengan Fireground, sebuah institusi pelatihan dan manajemen kebakaran asal Australia.

Dalam pelatihan tersebut, Fireground mengajari tim APRIL cara mendesain, mengembangkan, hingga menjalankan manajemen insiden kebakaran. Hal itu dirasa penting untuk mendukung kerja tim kebakaran APRIL Group.

Buah dari pelatihan tersebut adalah terbentuknya sistem manajemen kebakaran yang disebut Sistem Komando Insiden (Incident Command System / (ICS). Di dalam ICS terdapat panduan dan prosedur dalam menangani kebakaran dan mengelola operasi kebakaran dalam waktu singkat.

Kehadiran ICS nantinya bisa membuat penanganan bencana kebakaran menjadi lebih efektif. Pasalnya akan ada struktur manajemen dan hierarki yang jelas, disertai sistem komunikasi yang baik.

PEMBERIAN HADIAH PROGRAM DESA BEBAS API
Source: kabarriau.com
Kehadiran musim penghujan memang memberi sedikit keleluasaan bagi APRIL Group dari pemantauan ancaman kebakaran. Namun, kesempatan ini tidak mereka sia-siakan. Momen ini justru dijadikan saat untuk bersiap menghadapi bahaya api pada musim kemarau berikutnya.

Kebetulan APRIL Indonesia memiliki sebuah program unik terkait pencegahan kebakaran. Mereka menamainya sebagai Program Desa Bebas Api.

APRIL mulai menjalankannya pada 2014. Dalam penanganan masalah kebakaran di Indonesia, Program Desa Bebas Api yang digagas oleh APRIL merupakan terobosan penting. Sebab, kegiatan ini menawarkan paradigma baru dalam manajemen kebakaran.

Sebelumnya, penanganan masalah kebakaran di Indonesia hanya bersifat reaktif. Kegiatan hanya sebatas pemadaman api, penjagaan supaya api tidak menyebar, ataupun evakuasi korban. Namun, APRIL Asia melalui Program Desa Bebas Api menawarkan solusi berbeda yang lebih menekankan kepada tindakan-tindakan preventif untuk mencegah terjadinya kebakaran..

Mengapa pencegahan penting? Pasalnya, ketika api membakar lahan atau hutan, sudah pasti akan terjadi kerugian yang besar, seberapa pun skala kebakarannya. Beda halnya ketika kebakaran dicegah. Tidak akan ada kerugian sama sekali yang dirasakan.

Bukan hanya itu, APRIL juga menggandeng masyarakat dalam Program Desa Bebas Api. Keterlibatan masyarakat dirasa krusial karena banyak pula kejadian kebakaran yang terjadi akibat ulah manusia.

Untuk mengajak masyarakat berpartisipasi aktif, APRIL Group gencar melakukan sosialisasi tentang bahaya api. Mereka juga melatih kemampuan warga untuk memadamkan api serta memantau titik api.

Supaya warga kian bersemangat, APRIL memberikan hadiah bagi sejumlah desa yang mampu menjaga wilayahnya dari kebakaran selama setahun. APRIL Indonesia mengucurkan dana Rp50 hingga Rp100 juta per desa untuk membangun fasilitas umum, seperti sekolah, pasar, jalan raya dan rumah peribadatan.

Momen musim penghujan kerap dimanfaatkan oleh APRIL untuk mempersiapkan kelanjutan Program Desa Bebas Api. Saat ini, mereka biasa memberikan hadiah kepada desa-desa yang mampu mengamankan wilayahnya dari kebakaran.

Salah satu contohnya dilakukan oleh unit bisnis APRIL Group, PT Riau Andalan Pulp & Paper (RAPP) pada November 2016. Mereka memberikan hadiah bagi desa-desa yang berpartisipasi dalam Program Desa Bebas Api.

Kala itu, ada sembilan desa yang ikut serta. Desa yang tidak dilanda bencana kebakaran sama sekali mendapat hadiah Rp100 juta. Sementara itu, desa yang masih terkena masalah api dengan skala ringan memperoleh dana Rp50 juta. Namun, hadiah yang diberikan tidak berupa uang tunai. Wujudnya adalah pembangunan infrastruktur yang diperlukan oleh desa.

Terlepas dari hadiahnya, Program Desa Bebas Api memang berarti positif untuk menekan kebakaran. Desa-desa berupaya keras untuk mengamankan wilayahnya dari api.

Contohnya adalah Desa Pelalawan. Pada 2015, mereka hanya mendapat hadiah Rp50 juta karena kecolongan ada lahan seluas 0,5 hektare yang terbakar. Namun, pada 2016, Desa Pelalawan mampu menjaga wilayahnya bebas dari api sehingga memperoleh hadiah Rp100 juta.

Hadiah itu akhirnya memang dimanfaatkan untuk kepentingan publik. Desa Pelalawan menggunakannya untuk membangun kantor Masyarakat Peduli Api (MPA) dan Babinkantibmas. Sebab, mereka berperan besar dalam menjaga wilayah desa dari kebakaran.

Penghargaan ini juga membuat banyak desa lain yang tertarik untuk mengikuti Program Desa Bebas Api. Terbukti pada 2017 jumlah peserta meningkat pesat. Kalau tahun sebelumnya hanya ada sembilan desa yang ikut serta, pada 2017 jumlahnya meningkat dua kali lipat.

Musim penghujan yang datang memang menjadi berkah tersendiri bagi APRIL Group. Momen ini membuka kesempatan untuk bersiap lebih baik dalam mengamankan lahan dan hutan dari api pada periode rawan kebakaran.

Posting Komentar