RAPP Riau Terus Menekan Penggunaan Energi Fosil

Image Source: APRIL
Penggunaan energi fosil semakin ditekan oleh PT Riau Andalan Pulp & Paper (RAPP). Mereka melakukannya dengan memanfaatkan energi ramah lingkungan yang terbarukan dalam operasionalnya.
 
PT RAPP merupakan unit operasional APRIL Group. Mereka adalah salah satu produsen kertas terkemuka di dunia. Kapasitas produksi pulp APRIL mencapai 2,8 juta ton per tahun. Sedangkan untuk kertas, mereka sanggup memproduksi 850.000 ton dalam setahun.
 
Dalam melakukan proses produksi, RAPP Riau tentu membutuhkan energi. Namun, sebagai perusahaan peduli lingkungan, mereka berupaya keras untuk menekan pemanfaatan energi yang tidak ramah untuk alam. Sebagai gantinya, RAPP terus memperbesar penggunaan energi terbarukan yang aman.
 
Selama ini energi fosil masih mendominasi penggunaan energi di Indonesia. Republika melaporkan berdasarkan data dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, per Mei 2015, sebanyak 95 persen energi yang dipakai masih berasal dari fosil seperti minyak bumi dan batubara. Sebaliknya penggunaan energi terbarukan nonfosil amat rendah. Pemakaiannya hanya sekitar lima persen.
 
Kondisi seperti ini tak berbeda jauh dengan situasi pemanfaatan energi di sektor industri. Energi fosil yang berkontribusi terhadap pemanasan global masih mendominasi.
 
Akan tetapi, kondisi di PT RAPP berbeda. Mereka melawan arus dengan menekan penggunaan energi fosil di perusahaannya. Untuk operasional, RAPP justru lebih memilih memakai energi nonfosil yang ramah lingkungan.
 
Hal itu bisa dilakukan dengan cara memanfaatkan limbah produksi pulp dan kertas. Selama ini, dalam proses produksi ada produk sampingan yang dinamai sebagai lignin. Oleh PT Riau Andalan Pulp & Paper, lignin ini diproses untuk menghasilkan energi biomass yang aman untuk alam.

RAPP Riau mengolah lignin sedemikian rupa sehingga menjadi lindi hitam atau black liquor. Perlu diketahui, Black liquor merupakan limbah cair yang mengandung padatan sebesar 70%-72% yang didaur ulang dari digester pada proses pembuatan kertas.
 
RAPP mampu menangkap energi lindi hitam menjadi sumber energi ramah lingkungan. Kuncinya adalah pengoperasian ketel uap pemulihan (recovery boiler) terbesar di dunia di dalam perusahaan.
 
Recovery boiler merupakan alat yang berfungsi untuk menghasilkan uap air (steam) dan mengambil kembali bahan kimia yang digunakan dalam proses pembuatan pulp. Dengan alat ini, RAPP berhasil menghasilkan energi listrik. Per tahun, tak kurang dari daya setara 3,2 juta megawatt per tahun mampu mereka hasilkan.
 
Berkat kemampuan ini, PT Riau Andalan Pulp & Paper mampu memenuhi kebutuhan energinya secara mandiri. Misalnya untuk kebutuhan pengeringan kertas. RAPP dapat mencukupinya dari pemanfaatan uap dari lindi hitam yang diproses menjadi listrik.
 
Kebetulan energi listrik biomass jauh lebih aman untuk lingkungan dibanding energi fosil. Kuncinya adalah proses pembakaran yang lebih sempurna sehingga karbon yang dilepaskan ke udara jauh lebih kecil.
 
Meski begitu, kesuksesan ini tidak membuat RAPP Riau berhenti berinovasi. Mereka terus berupaya mencari jalan lain agar penggunaan energi fosil benar-benar sirna dari perusahaannya.
 
Salah satu yang dilakukan ialah memanfaatkan lindi hitam untuk menghasilkan metanol. Nantinya metanol itu yang menjadi sumber energi baru karena bersifat terbarukan dan ramah lingkungan.
 
RAPP rupanya serius dalam pelaksanaan. Pada 2012, mereka membangun pabrik metanol. Investasi besar diperlukan untuk membuatnya. Diperkirakan dana tak kurang dari 2,3 juta dolar Amerika Serikat (sekitar Rp31,2 miliar) dikeluarkan.
 
Akan tetapi, PT RAPP mau saja melakukannya. Bagi mereka lebih penting adalah kelestarian alam. "Ini adalah langkah perusahaan guna mendukung pemanfaatan sisa bahan baku menjadi sumber energi," kata Tony Wenas, Presiden Komisaris RAPP seperti dilaporkan oleh Kontan.

ENERGI RAMAH LINGKUNGAN MENDOMINASI
Image Source: APRIL
Dalam menghasilkan metanol, PT Riau Andalan Pulp & Paper melakukan proses khusus terhadap lindi hitam. Mereka menjalankan langkah penyulingan dan penguapan dengan melibatkan lindi hitam.
 
Hasil dari proses tersebut kemudian dimanfaatkan oleh RAPP di tungku pembakaran. Uap dari tungku pembakaran itulah yang akhirnya menggerakkan turbin untuk menghasilkan listrik.
 
Pada 2012, PT RAPP sudah mengupayakan hal tersebut bisa terjadi. Selama setahun mereka membangun pabrik metanol. Hasilnya bisa dipetik saat ini. RAPP Riau memiliki pembangkit energi sendiri yang ramah lingkungan.
 
RAPP kemudian bisa memanfaatkan energi terbarukan tersebut untuk pemenuhan kebutuhan di pabrik. Berkat itu, pabrik RAPP Riau di Pangkalan Kerinci kini memiliki kapasitas energi terpasang mencapai lebih dari 500 MW.
 
Keberadaan pabrik metanol itu secara langsung berdampak signifikan bagi upaya menekan penggunaan energi fosil di tubuh RAPP. Mereka menyatakan bahwa saat ini energi yang dominan di dalam perusahaan justru energi terbarukan yang ramah lingkungan.
 
Perbandingannya pun sangat signifikan. Disebutkan bahwa sekitar 80 persen energi di dalam PT RAPP justru berasal dari energi terbarukan. Energi fosil seperti minyak bumi dan batubara malah hanya tinggal 20 persen.
 
"Investasi ini juga sebagai salah satu langkah perusahaan untuk mengurangi efek gas rumah kaca. Ini juga menjadi bukti upaya perusahaan untuk menggunakan energi terbarukan yang lebih ramah lingkungan," ucap Tony.
 
Pemanfaatan lindi hitam oleh RAPP bisa diibaratkan sekali memukul dua target terkena. Bagaimana tidak, lindi hitam yang merupakan hasil sampingan dari proses produksi pulp dan kertas tidak bisa langsung dilepas ke alam. Zat ini perlu diolah dulu sedemikian rupa supaya tidak mengganggu keseimbangan ekosistem.
 
Dibanding mengeluarkan tenaga untuk mengolah lindi hitam, RAPP malah bisa dengan jeli memanfaatkannya untuk sumber energi. Hal ini berarti pula mereka telah menjalankan pengolahan limbah kala memproses lindi hitam menjadi energi.
 
Bersamaan dengan itu, PT Riau Andalan Pulp & Paper juga berperan aktif dalam menjaga keseimbangan iklim. Perlu diketahui, metanol termasuk sebagai energi ramah lingkungan. Jika dibandingkan dengan etanol, metanol memiliki rantai karbon yang jauh lebih pendek. Ini membuat metanol akan lebih terbakar sempurna dan melepaskan gas buangan karbon monoksida yang lebih sedikit.
 
"Emisi karbon yang dihasilkan pabrik dari penggunaan lignin yang sudah diproses ini jauh lebih kecil dari pada pemanfaatan bahan bakar minyak dan batu bara. Intinya perusahaan mencoba untuk mengurangi penggunaan energi fosil sebagai bahan bakar pembangkit energi karena dinilai banyak kalangan menyebabkan pencemaran udara dan emisi karbon," kata Manajer Lingkungan PT Riau Andalan Pulp & Paper, Edward Wahab, di Republika.
 
Langkah ini menandakan RAPP Riau memang sudah melakukan upaya aktif dalam menjaga keseimbangan iklim. Meminimalkan karbon yang dilepas akan menekan pemanasan global. "Upaya ini adalah untuk mengurangi efek gas rumah kaca," tutur Tony.
 
Dengan emisi karbon yang minim, pemanasan global yang mengakibatkan ketidakseimbangan iklim bisa dikurangi atau bahkan dihilangkan. Jika itu terjadi, bukan hanya RAPP yang akan menikmati buahnya. Namun, hampir semua orang akan merasakan manfaat positifnya.
 
Tak heran, ke depan PT RAPP terus berupaya mencari atau menambah kapasitas penghasil energi ramah lingkungan. Mereka berharap energi fosil benar-benar sudah tidak ada lagi di dalam perusahaan.

Posting Komentar